Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Pada peringatan satu tahun tasyi’ bersejarah dua pemimpin syahid Hizbullah, Syaikh Naim Qassem menegaskan bahwa tasyi’ tersebut bukan sekadar perpisahan, melainkan pembaruan baiat untuk melanjutkan jalan perlawanan.
Ia menyatakan bahwa kehadiran jutaan rakyat dalam tasyi’ menunjukkan akar kuat perlawanan di hati masyarakat Lebanon dan menjadi titik balik politik di dalam dan luar negeri. Slogan “Kami tetap setia pada janji” bukan hanya ungkapan emosional, tetapi pernyataan arah masa depan.
Hubungan dengan Sayyid Nasrallah dan Safiuddin
Syaikh Qassem yang selama puluhan tahun mendampingi Sayyid Nasrallah menyatakan bahwa hubungan mereka adalah hubungan iman, perjuangan, dan tanggung jawab bersama. Ia mengakui kehilangan besar secara pribadi, namun menegaskan keyakinannya pada ketetapan Ilahi dan kelanjutan jalan perlawanan.
Tentang Safiuddin, ia menyebutnya sebagai sosok cerdas, teliti, dan sepenuhnya mengabdikan diri pada perlawanan dan rakyat.
Hubungan Nasrallah dengan Imam Khamenei
Syaikh Qassem menekankan adanya cinta dan ketaatan mendalam antara Syahid Nasrallah dan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Nasrallah, menurutnya, mengikuti setiap arahan Imam Khamenei dengan penuh keyakinan, dan Imam Khamenei pun memberikan kepercayaan penuh kepada beliau.
Ia menegaskan bahwa hubungan keduanya dibangun atas dasar iman, pengorbanan, dan komitmen terhadap wilayah kepemimpinan Islam.
Tentang Perlawanan dan Masa Depan
Syaikh Qassem menyatakan bahwa musuh mungkin menilai pembantaian dan agresi sebagai keberhasilan, namun perlawanan justru akan bangkit kembali dari abu dengan kekuatan yang lebih besar.
Ia menegaskan bahwa proyek “Israel Raya” dan hegemoni Amerika bertemu dalam satu agenda kolonialisme modern, dan bahwa perang terhadap Lebanon merupakan bagian dari proyek dominasi tersebut.
Pesan kepada Rakyat
Di akhir wawancara, Syaikh Naim Qassem menegaskan, “Kami akan tetap teguh. Kami telah mempersiapkan diri untuk dua kemungkinan: kemenangan atau syahadah. Tidak ada tempat bagi kekalahan, seberapa pun besar pengorbanan yang harus kami bayar.”
Ia menekankan bahwa perlawanan adalah hak yang sah, tanah adalah milik mereka, dan jalan mereka jelas. “Kemenangan hanya datang dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
Your Comment